"Bukan Sekadar Angka, Kami Menjemput Takdir Umat": Manifesto Baznas Kota Jambi di Odua Weston.
Pelatihan Manasik Zakat Baznas Kota Jambi 2026-Foto-Istimewa
JAMBI, JAMBITV.CO – Selasa (3/2/2026), sebuah perlawanan terhadap kemiskinan dideklarasikan dari Ballroom Hotel Odua Weston. Di sana, BAZNAS Kota Jambi tidak sedang sekadar menggelar seremoni; mereka sedang mengasah "pedang" intelektual dan spiritual para pejuang zakat melalui Pelatihan Manasik zakat dan Radikalisasi Semangat Fundraising.
zakat Bukan Pajak, Tapi Cinta yang Terorganisir
Di hadapan puluhan amil yang siap "pasang badan" untuk umat, Fakhrudin, SE, Wakil Ketua I BAZNAS Kota Jambi, melempar narasi yang menantang. Baginya, fundraising di era digital bukan soal meminta, tapi soal membedah kebuntuan ekonomi.
"Buang jauh-jauh mental peminta-minta. Kita adalah arsitek keadilan sosial. Setiap rupiah yang kita jemput bukan angka statistik, melainkan nyawa bagi anak yatim dan napas baru bagi dhuafa yang nyaris menyerah," cetusnya dengan nada yang membakar adrenalin peserta.
Dr. Muhamad Padli: Menjadi Amil yang "Berbahaya" bagi Kemiskinan
Ketua BAZNAS Kota Jambi, Dr. Muhamad Padli, S.Pd.I., M.Pd.I, tampil dengan narasi yang lebih filosofis namun tajam. Beliau menegaskan bahwa Manasik zakat adalah harga mati—sebuah garis demarkasi antara yang halal dan syubhat.
"Dunia tidak butuh amil yang hanya pintar memegang kalkulator. Kita butuh amil yang 'berbahaya'—amil yang pemahaman syariatnya sekokoh batu karang dan teknik profesionalnya selincah elang," ujar Dr. Padli.
Ia menuntut para relawan untuk tidak sekadar hadir, tapi bertransformasi menjadi mujahid kemanusiaan yang mampu menjawab tangisan lapar di gang-gang sempit Kota Jambi dengan solusi yang bermartabat.
Dakwah Digital: Membungkam Narasi Buruk dengan Kebenaran
Uniknya, pelatihan ini menekankan satu misi baru: Amil sebagai Konten Kreator Surga. Relawan ditantang untuk menjajah media sosial dengan virus-virus kebaikan. Di era ketika kabar bohong begitu cepat melesat, BAZNAS Kota Jambi memilih untuk memviralkan harapan.
"Jika keburukan bisa viral, mengapa kebaikan harus disembunyikan? Viralkan senyum mustahik, tunjukkan pada dunia bahwa zakat adalah teknologi Tuhan untuk menghapus air mata," tutup Dr. Padli dalam orasinya.
Agenda di Odua Weston ini bukan sekadar kelas teori, melainkan sebuah keberangkatan. Pasukan amil Kota Jambi kini telah pulang dengan satu janji: Kemiskinan boleh ada, tapi tak boleh dibiarkan bertahta.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: