Namun yang paling diingat bukanlah pembicaraan politik.
Justru obrolan-obrolan ringan tentang dunia usaha, kehidupan, keluarga, hingga cerita masa kecil generasi 1980-an dan 1990-an.
Setiap percakapan hampir selalu diakhiri dengan motivasi.
H. A. Bakri mempunyai kebiasaan menyelipkan pesan-pesan sederhana tentang kerja keras, optimisme, dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan siapa pun.
Ia berbicara seperti seorang sahabat. Bukan seperti seorang pejabat.
Ketika akhirnya duduk di DPR RI, hubungan itu tidak pernah berubah.
Studio Jambi TV menjadi salah satu tempat yang paling sering ia datangi setiap kali berada di kampung halaman.
Ia datang bukan hanya saat musim politik.
Ia hadir untuk menjelaskan program pemerintah, membahas pembangunan Jambi, berdiskusi mengenai ekonomi, bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis dari para jurnalis.
Di ruang redaksi, hampir semua wartawan mengenalnya.
Ia hafal nama banyak reporter.
Tak jarang justru H. A. Bakri yang lebih dahulu menyapa.
Bagi insan pers, ia adalah narasumber yang selalu mudah ditemui.
Bagi masyarakat, ia adalah wakil rakyat yang tetap membumi.
Empat periode di DPR RI tentu bukan perjalanan yang singkat.
Selama itu pula, H. A. Bakri mengawal berbagai program pembangunan di Provinsi Jambi, mulai dari infrastruktur jalan, jembatan, hingga berbagai kebutuhan masyarakat yang diperjuangkannya melalui parlemen.