Di Balik Api Karhutla yang Dipadamkan, Ada Rindu yang Tak Terpadamkan

Di Balik Api Karhutla yang Dipadamkan, Ada Rindu yang Tak Terpadamkan

David saat bertugas dilahan gambut yang terbakar--Manggala agni

JAMBI, JAMBITV.CO – Hanya tiga hari David Juntara Harahap menikmati waktu bersama istri dan putri pertamanya setelah kelahiran sang bayi. Setelah itu, ia harus kembali pergi.

Bukan karena tak ingin tinggal lebih lama, melainkan karena tugas sebagai petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memanggilnya kembali ke lapangan.

Ada bayi perempuan yang baru saja hadir dalam hidupnya. Ada istri yang masih beradaptasi menjadi seorang ibu. Namun, David harus kembali berjauhan dengan keduanya, menghadapi panas, asap, dan beratnya medan pemadaman, sementara sebagian hatinya tertinggal di rumah.

“Terus terang, sangat sedih. Apalagi saya baru menjadi seorang ayah dan saya hanya bisa mendampingi istri saya waktu melahirkan selama tiga hari,” tutur David.

BACA JUGA:Karhutla di Jambi Hanguskan 4.267 Hektar Lahan, Polisi Tetapkan 18 Tersangka Pembakar Lahan

Sepuluh tahun bekerja sebagai petugas pemadam karhutla membuat David terbiasa meninggalkan rumah selama berminggu-minggu. Ia sudah memahami risiko pekerjaan yang dijalaninya. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya, ia harus menahan rindu kepada seorang anak yang bahkan belum sempat ia temani tumbuh lebih lama.

Di rumah, Angel (25), istrinya, menjalani hari-hari sebagai ibu bersama putri kecil mereka, Dania. Saat wawancara dilakukan, usia Dania baru dua bulan 21 hari. Keluarga kecil itu tinggal di kawasan PT Wirakarya Sakti (WKS), Sungai Tapa, Jambi.

Pada usia sekecil itu, Dania tentu belum memahami ke mana ayahnya pergi dan mengapa ia tak selalu ada di sisinya. Ia belum mengerti arti pekerjaan, jarak, ataupun penantian. Yang ia kenal hanyalah dekapan ibunya, suara-suara di sekitarnya, dan sebuah rumah yang sesekali kehilangan kehadiran sosok ayah.

BACA JUGA:Karhutla Masuki Fase Kritis, Ivan Wirata: Jangan Tunggu Api Membesar, Jaga Air Sebelum Gambut Mengering

Bagi Angel, hari-hari tanpa suami bukan sekadar soal mengurus rumah dan bayi seorang diri. Ada banyak hal kecil yang terasa berbeda ketika orang yang biasanya menjadi tempat berbagi tak berada di dekatnya.

Ia ingin bercerita, meminta pendapat, atau sekadar mendapatkan bantuan saat lelah mengurus Dania. Namun, ketika David bertugas, semua itu harus ia jalani sendiri.

“Yang paling berat adalah menjalani hari-hari tanpa kehadiran suami. Biasanya ada tempat untuk berbagi cerita, meminta pendapat, dan saling membantu dalam urusan keluarga. Namun, ketika suami bertugas, saya berusaha kuat dan menjalankan tanggung jawab di rumah sendiri,” ungkap Angel.

BACA JUGA:Satbrimob Polda Jambi Kerahkan 30 Personel Tangani Karhutla di Betara Tanjab Barat

Angel berusaha tegar. Ia memahami bahwa pekerjaan suaminya bukan pekerjaan biasa. Di balik seragam dan tugas pemadaman, ada tanggung jawab besar yang harus dituntaskan. Tetapi, sebagai seorang istri dan ibu baru, ia juga memiliki kerinduan sederhana: ingin suaminya ada di rumah, melihat Dania tumbuh, dan menikmati hari-hari pertama mereka sebagai keluarga kecil.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: