Di Balik Api Karhutla yang Dipadamkan, Ada Rindu yang Tak Terpadamkan
David saat bertugas dilahan gambut yang terbakar--Manggala agni
Ketika rindu datang, Angel memiliki cara sederhana untuk mengenalkan sosok ayah kepada putrinya. Ia memperlihatkan foto David kepada Dania, lalu bercerita tentang laki-laki yang sedang bekerja jauh dari rumah itu.
“Saya sering memperlihatkan foto ayahnya dan menceritakan tentang ayahnya, walaupun anak masih bayi dan belum sepenuhnya mengerti,” katanya.
BACA JUGA:Hari Ketujuh, Karhutla di TN Berbak Sembilang Belum Padam, Tim Gabungan Terkendala Air dan Medan
Barangkali Dania belum memahami cerita ibunya. Belum mengerti bahwa laki-laki di dalam foto itu adalah ayah yang ingin menggendongnya, mencium keningnya, dan mendengar tangisannya secara langsung. Namun, melalui foto-foto itu, Angel berusaha menjaga agar sosok ayah tetap hadir dalam hari-hari putrinya, meski hanya lewat gambar dan cerita.
Jauh dari rumah, David menghadapi tantangan yang bukan hanya soal api dan asap. Salah satu hal yang paling berat baginya justru ketika ia kehilangan kabar dari keluarga.
Lokasi pemadaman terkadang berada jauh dari permukiman dan sulit dijangkau jaringan telekomunikasi. Ketika sinyal menghilang, komunikasi dengan Angel pun terputus. Ia tidak bisa sekadar menelepon untuk menanyakan keadaan istri dan bayinya, apalagi mendengar suara mereka setiap kali rindu datang.
BACA JUGA:Lewat Pojok Berkah PKK Provinsi Jambi, Warga Diedukasi Hemat Air dan Bahaya Karhutla
“Ketika saya mendapat kebakaran di lokasi yang jauh dari permukiman masyarakat atau susah sinyal, itu perasaan yang paling sedih. Saya tidak bisa menghubungi istri dan keluarga saya,” ujarnya.
Bagi sebagian orang, kehilangan sinyal mungkin hanya berarti tertundanya sebuah pesan atau panggilan. Bagi David, itu berarti ia harus menjalani tugas tanpa mengetahui secara langsung bagaimana keadaan keluarganya di rumah.
Apakah Dania sedang tidur? Apakah putrinya menangis? Apakah Angel kelelahan mengurus bayi seorang diri?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin muncul di benaknya, sementara di hadapannya api harus segera dikendalikan.
Medan pemadaman pun tak selalu mudah. Akses menuju lokasi kebakaran terkadang sulit ditembus. Terik matahari, asap, kelelahan, hingga keterlambatan pasokan makanan menjadi bagian dari perjuangan yang harus dihadapi petugas.
Di tengah kondisi itu, David tetap berusaha menjalankan tugas bersama timnya. Ia tahu api yang dibiarkan meluas dapat membawa dampak lebih besar bagi masyarakat dan lingkungan.
Ada tanggung jawab yang harus ia selesaikan di lapangan. Ada pula tanggung jawab lain yang menunggunya di rumah: seorang istri dan bayi perempuan yang kini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: