Di Balik Api Karhutla yang Dipadamkan, Ada Rindu yang Tak Terpadamkan

Di Balik Api Karhutla yang Dipadamkan, Ada Rindu yang Tak Terpadamkan

David saat bertugas dilahan gambut yang terbakar--Manggala agni

Ketika rasa lelah datang, David kerap teringat perkataan rekannya, Tobi.

“Ketika bekerja kena asap, pulang kerja kena asap. Ketika kita tidak bekerja, dapur tidak berasap,” kenangnya.

BACA JUGA:Dinkes Imbau Warga Perhatikan Gizi Seimbang

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan kenyataan hidup yang harus ia jalani. Pekerjaan ini bukan hanya tentang pengabdian, melainkan juga tentang mencari nafkah untuk keluarga.

Kini, kebutuhan itu terasa semakin nyata. Ada seorang bayi yang harus dipenuhi kebutuhannya, termasuk susu dan berbagai keperluan sehari-hari. Rindu kepada keluarga harus ia simpan, sementara pekerjaan tetap harus diselesaikan.

Sebagai pemimpin tim di lapangan, David juga memikul tanggung jawab terhadap anggota yang bekerja bersamanya. Setelah bertahun-tahun menjalani tugas bersama, hubungan mereka bukan lagi sekadar hubungan antarpekerja.

“Tim di lapangan sudah saya anggap seperti keluarga sendiri,” katanya.

BACA JUGA:Rp 30 Miliar Bantuan Karhutla Jambi Dipertanyakan? Al Haris : Tidak Mungkin Bantuan itu Kita Salah Gunakan !

Di lapangan, mereka saling membantu menghadapi beratnya pekerjaan. Mereka berjuang bersama di tengah panas dan asap. Namun, ketika tugas selesai dan masing-masing kembali ke kehidupan pribadi, ada kerinduan yang tak bisa digantikan oleh kebersamaan dengan rekan kerja: kerinduan untuk pulang kepada keluarga sendiri.

Di rumah, Angel menjalani penantian dengan caranya sendiri. Setiap kali memungkinkan, ia berusaha menghubungi David. Namun, tidak semua pesan mendapat balasan cepat. Tidak semua panggilan bisa tersambung.

Ia mencoba memahami keadaan suaminya. Bisa jadi David sedang sibuk memadamkan api. Bisa jadi ia berada di lokasi yang sama sekali tak terjangkau jaringan.

“Saya hanya bisa bersabar dan terus berdoa, berharap ada kabar bahwa suami dalam keadaan baik-baik saja,” tuturnya.

BACA JUGA:Pemprov Jambi Alokasikan Rp30 Miliar untuk Penanganan Karhutla, Ini Rincian Penggunaannya

Angel tak meminta suaminya selalu berada di sampingnya. Ia memahami ada tugas yang harus ditunaikan dan tanggung jawab yang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Namun, di balik pengertiannya itu, ada harapan yang terus ia jaga: semoga David selalu dalam keadaan selamat dan suatu hari bisa pulang untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka.

Sebab, bagi keluarga kecil itu, kepulangan David bukan sekadar berakhirnya masa penugasan. Itu adalah kesempatan untuk kembali menjadi keluarga yang utuh, tanpa harus dibatasi jarak, sulitnya sinyal, atau ketidakpastian kapan mereka bisa bertemu lagi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: