Di Balik Api Karhutla yang Dipadamkan, Ada Rindu yang Tak Terpadamkan
David saat bertugas dilahan gambut yang terbakar--Manggala agni
Ketika ditanya apa yang paling dirindukannya dari rumah, David menyebut masakan istrinya yang menurutnya sangat lezat. Tetapi, ada satu hal lain yang kini memiliki arti jauh lebih besar baginya.
“Yang paling saya rindukan adalah tangisan anak perempuan saya yang masih kecil,” ujar David.
BACA JUGA:Pemkab Sarolangun Kembali Berlakukan Belajar Tatap Muka Dengan Tetap Perhatikan Prokes
Bagi orang lain, tangisan bayi mungkin terdengar sebagai hal biasa. Namun, bagi seorang ayah yang harus berjauhan dari anaknya sejak hari-hari pertama kelahiran, suara itu menjadi sesuatu yang begitu berharga.
David tak hanya ingin mendengar tangisan putrinya melalui telepon atau melihat wajahnya lewat foto. Ia ingin berada di dekatnya. Ingin menggendongnya ketika menangis, menenangkannya dalam pelukan, dan merasakan sendiri hangat tubuh mungil yang selama ini hanya bisa ia rindukan dari kejauhan.
Jika mendapat kesempatan pulang, hal pertama yang ingin dilakukannya adalah mencium dan memeluk Dania.
Keinginan itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan kerinduan seorang ayah yang kehilangan banyak momen awal bersama anak pertamanya. Momen ketika seorang bayi mulai mengenali suara di sekitarnya, ketika pelukan menjadi bagian dari kehangatan, dan ketika orang tua perlahan belajar memahami kehidupan baru mereka.
David tahu, waktu yang telah berlalu tak bisa diulang. Tiga hari yang sempat ia habiskan bersama istri dan putrinya tak akan kembali menjadi lebih panjang. Tetapi, ia berharap masih memiliki banyak kesempatan untuk hadir dalam kehidupan Dania pada hari-hari berikutnya.
Angel pun memiliki harapan yang sama. Ia ingin suaminya dapat melihat pertumbuhan Dania secara langsung, menyaksikan perubahan kecil dari hari ke hari, dan menikmati kebahagiaan yang mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi sangat berarti bagi sebuah keluarga.
Ia bangga dengan pekerjaan David. Namun, di atas segalanya, keselamatan suaminya tetap menjadi hal yang paling ia harapkan.
“Bagi saya, keluarga tidak membutuhkan hal yang berlebihan. Kami hanya ingin suami pulang dengan selamat karena kehadirannya adalah kebahagiaan terbesar bagi kami,” katanya.
Sepuluh tahun menjadi petugas pemadam karhutla telah mengajarkan David menghadapi banyak hal: medan yang sulit, panas yang menyengat, asap yang membatasi pandangan, dan tanggung jawab memimpin tim di tengah keadaan yang tak selalu mudah.
Namun, menjadi seorang ayah memberinya pelajaran lain. Bahwa ada perjuangan yang tak hanya berlangsung di tengah api, tetapi juga di dalam hati. Ada rindu yang harus disimpan demi pekerjaan, ada kebersamaan yang terpaksa ditunda, dan ada momen berharga bersama keluarga yang tak selalu bisa ia miliki ketika menginginkannya.
Sementara David berjuang di lapangan, Angel terus merawat Dania di rumah. Sesekali, ia memperlihatkan foto ayahnya dan bercerita tentang laki-laki yang sedang bekerja jauh dari mereka.
Dania mungkin belum memahami semua itu. Ia belum tahu bahwa ayahnya sedang berjuang di tengah panas dan asap, atau bahwa ada seorang laki-laki yang selalu merindukan tangisannya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: