Ramadhan 2026 dan Cermin bagi Wartawan Jambi, Saatnya Puasa dari Sensasi dan Dusta

Senin 16-02-2026,21:56 WIB
Reporter : Admin
Editor : Mukhtadi Putra Nusa

JAMBITV.CO - Bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah yang diperkirakan dimulai 18 Februari 2026 bukan sekadar momentum ibadah personal, tetapi juga ruang muhasabah bagi setiap profesi—termasuk wartawan dan insan media di Jambi.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan lisan, pikiran, dan tindakan dari hal-hal yang merusak nilai kebenaran.

Bagi wartawan, makna Ramadhan jauh melampaui rutinitas liputan dan tenggat berita. Ramadhan menjadi momentum untuk “puasa” dari sensasi, hoaks, judul bombastis yang menyesatkan, serta praktik-praktik yang mencederai integritas profesi.

 

Di Jambi, peran media sangat strategis dalam mengawal transparansi pemerintahan, isu lingkungan, dan keadilan sosial. Ramadhan 2026 bisa menjadi titik balik untuk memperkuat solidaritas antarinsan pers, mengurangi konflik internal, serta meningkatkan kolaborasi dalam liputan-liputan kepentingan publik.

Sebagaimana puasa bertujuan membentuk manusia bertakwa, jurnalistik sejatinya bertujuan membentuk masyarakat yang tercerahkan.

Ramadhan adalah cermin. Ia bertanya kepada setiap wartawan:
Apakah tulisan kita membawa manfaat?
Apakah berita kita menyejukkan atau justru memecah belah?
Apakah profesi ini kita jalankan sebagai amanah atau sekadar pekerjaan?

Jika Ramadhan mampu mengubah cara wartawan bersikap, berperilaku, dan berkarya, maka bukan hanya pribadi yang bertumbuh tetapi juga kualitas demokrasi di Jambi.

Di tengah derasnya arus informasi digital, media dituntut cepat. Namun kecepatan tanpa verifikasi adalah celah lahirnya disinformasi. Ramadhan 2026 seharusnya menjadi pengingat bahwa akurasi adalah amanah, dan setiap kata yang ditulis adalah tanggung jawab moral bukan hanya kepada publik, tetapi juga kepada Allah SWT.

Bagi insan pers di Jambi, yang setiap hari mengawal isu-isu tambang, perkebunan, konflik lahan, hingga kebijakan publik, Ramadhan adalah saat tepat untuk memperkuat keberpihakan pada kebenaran dan kepentingan masyarakat.

 

Apa yang Perlu Diubah

Apa yang Perlu Diubah? pertama Sikap:Wartawan perlu menumbuhkan kembali keikhlasan dalam bekerja. Tidak semua berita harus dikejar demi klik dan trafik. Ada nilai etika, empati, dan keberimbangan yang harus dijaga.

Kemudian yang perlu di rubah adalah Perilaku. Yaitu Menghindari gosip, fitnah, framing berlebihan, serta praktik transaksional yang merusak independensi. Puasa melatih menahan diri—dan itu relevan dalam menjaga jarak profesional dengan narasumber.

Dan terakhir yang perlu dirubah  Ramadhan bisa menjadi momentum menghadirkan lebih banyak karya yang mencerahkan: feature kemanusiaan, kisah inspiratif, pengawasan anggaran publik, dan liputan yang membangun optimisme masyarakat Jambi.

 

Puasa mengajarkan disiplin waktu, kesabaran, dan pengendalian diri. Nilai-nilai ini selaras dengan prinsip jurnalistik: verifikasi, independensi, dan tanggung jawab.

Seorang wartawan yang berpuasa tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari menulis tanpa data, menyiarkan tanpa cek fakta, atau memviralkan tanpa pertimbangan dampak sosial.

Ramadhan juga mengajarkan kesederhanaan. Di tengah kompetisi media dan tekanan ekonomi industri pers, kesederhanaan dapat dimaknai sebagai kembali pada esensi: menghadirkan kebenaran.

Kategori :