Dari Yel-Yel Rumpin hingga Brevet Bela Negara

Dari Yel-Yel Rumpin hingga Brevet Bela Negara

162 wartawan mengikuti retret empat hari yang menanamkan kembali disiplin, solidaritas, dan nilai kebangsaan.-162 wartawan mengikuti retret empat hari yang menanamkan kembali disiplin, solidaritas, dan nilai kebangsaan.-162 wartawan mengikuti retret empat hari yang menanamkan kembali disiplin, solidaritas, dan nilai kebangsaan.

JAMBITV.CO,- “Pagiiii!”
Suara Komandan Latihan Kolonel Inf Sunardi Istanto menggema di Aula Bela Negara Pusat Kompetensi Bela Negara Kemhan, Rumpin, Bogor, 29 Januari 2026.
Seratusan lebih wartawan dari seluruh Indonesia menjawab serempak.
“Pagi!”
“Pagi!”
PWI Luar Biasa!”

Namun bendera Merah Putih di atas podium tetap diam.
Tak bergeming.

“Seharusnya bendera itu bergerak,” ujar sang komandan sambil tersenyum—sebuah sindiran halus, sekaligus pengingat: semangat Bela Negara tak cukup hanya terdengar keras, tapi harus terasa kuat di dada.

Retret PWI 2026 bukan sekadar pelatihan. Ia menjadi ruang refleksi bagi insan pers yang pernah menjadi garda terdepan perjuangan bangsa. Dari kongres wartawan di Solo tahun 1946 hingga era disrupsi digital hari ini, jurnalisme terus berubah—dari pers perjuangan menjadi pers industri. Teknologi berkembang, jangkauan meluas, namun tantangan integritas, independensi, dan nasionalisme semakin kompleks.

Di tengah arus itu, 162 wartawan mengikuti Retret empat hari yang menanamkan kembali disiplin, solidaritas, dan nilai kebangsaan. Hari kedua dimulai dengan olahraga pagi, latihan baris-berbaris, hingga pembekalan Nilai Dasar Bela Negara—menguatkan karakter wartawan agar tetap profesional, berintegritas, dan berpihak pada kepentingan publik.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin hadir memberi pembekalan. Ia menegaskan pers sebagai “penjuru perang opini” di tengah derasnya arus informasi. Wartawan dituntut cepat membaca ancaman, menjaga kepentingan nasional, dan tetap kritis mengawal praktik ilegal yang merugikan negara.

Pesan serupa datang dari para pejabat negara lain—mulai dari Menteri Pertanian, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Wakil Menteri Sosial, hingga unsur Polri dan kementerian terkait—semuanya menekankan satu hal: peran pers bukan hanya menyampaikan berita, tetapi menjaga ketahanan bangsa.

Puncaknya, Minggu 1 Februari 2026, di Lapangan Tembak Bayu Aji Grup 1 Kopassus, para peserta menerima Brevet Bela Negara dan sertifikat resmi dari Kementerian Pertahanan. Penyematan itu menandai akhir Retret—sekaligus awal tanggung jawab baru.

Sambil menyeruput mie kari ayam—oleh-oleh pelatihan—dan memandangi lencana emas di dada, pertanyaan pun muncul:
akankah nasionalisme wartawan benar-benar bangkit kembali?

Jawabannya bukan pada yel-yel yang menggema, bukan pada seragam latihan atau brevet yang tersemat.
Jawabannya ada pada setiap karya jurnalistik yang ditulis setelah Retret usai—apakah tetap teguh menjaga kebenaran, kepentingan publik, dan keutuhan bangsa.

 

Karena pada akhirnya, bendera Merah Putih hanya akan benar-benar “bergerak”
ketika semangat wartawannya hidup kembali.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: