Ekonomi DIY Tumbuh 5,75 Persen, Dahlan Iskan Diajak Berbagi Pengalaman Hadapi Perubahan
Dahlan Iskan saat membacakan materi di acara temu responden Bank Indonesia Yogyakarta, Jumat 9 Oktober 2026.--Jambitv.co
YOGYAKARTA, JAMBITV.CO – Pertumbuhan ekonomi yang positif tidak serta-merta membuat pelaku usaha terbebas dari tantangan. Perubahan teknologi, pergeseran perilaku konsumen, dan persaingan yang semakin ketat menuntut dunia usaha terus menyesuaikan strategi agar tetap relevan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Temu Responden Bank Indonesia (BI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026 yang digelar di Yogyakarta, Jumat, 9 Oktober 2026. Dalam kegiatan itu, Dahlan Iskan diundang sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman kepada pelaku usaha yang menjadi responden BI.
Mengusung tema “Stay Relevant, Stay Resilient: Strategi Bertumbuh di Era Perubahan”, kegiatan tersebut menjadi forum untuk memperkaya perspektif pelaku usaha dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis.
Kepala Perwakilan BI DIY Sri Darmadi Sudibyo mengatakan Dahlan Iskan selama ini punya pengalaman panjang dalam dunia bisnis diharapkan bisa memberikan tambahan perspektif bagaimana bertahan di era perubahan.
"Pengalaman Pak Dahlan membangun, mengembangkan, dan memimpin berbagai usaha, termasuk membawa industri media melewati berbagai fase perubahan, tentu bisa menjadi pembelajaran yang berharga bagi peserta," harap Sudibyo.
BACA JUGA: Kuliah Umum Dahlan Iskan di Universitas Paramadina
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Darmadi Sudibyo saat memberikan sambutan dalam acara Temu Responden 2026.
Dahlan Iskan sendiri dalam sesinya lebih banyak mengajak berdiskusi para pengusaha yang menjadi peserta acara. Ia banyak mendengar sekaligus belanja masalah yang dihadapi para pengusaha.
Tantangan yang dihadapi dunia usaha saat ini memang tidak hanya berkaitan dengan persaingan antarpelaku bisnis. Perkembangan teknologi juga mengubah kebutuhan tenaga kerja, cara perusahaan menjalankan operasional, hingga preferensi konsumen.
Apalagi proyeksi World Economic Forum yang memperkirakan sekitar 22 persen lapangan kerja akan mengalami disrupsi hingga 2030. Perubahan tersebut dipengaruhi perkembangan teknologi, pergeseran demografi, dan dinamika geopolitik.
Kondisi itu menunjukkan bahwa strategi bisnis yang efektif beberapa tahun lalu belum tentu masih sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pelaku usaha dituntut lebih cermat membaca perubahan, menyesuaikan produk dan layanan, serta mengelola sumber daya secara adaptif.
BACA JUGA:JMSI Usulkan Dahlan Iskan Raih Anugerah Dewan Pers 2025 Kategori Spirit Media Baru
Tema Stay Relevant, Stay Resilient yang diangkat dalam pertemuan tersebut menekankan dua kemampuan yang saling melengkapi. Tetap relevan berarti memahami kebutuhan konsumen, mengikuti perkembangan pasar dan teknologi, serta menerjemahkannya ke dalam produk, layanan, dan model bisnis yang sesuai.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: