Konflik SAD dan PT SAL, Persoalan Lama Belum Tuntas
Konflik SAD dan PT SAL, Persoalan Lama Belum Tuntas--
JAMBITV.CO – Konflik antara masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba dengan PT Sari Aditya Loka (SAL) di Kabupaten Sarolangun, Jambi, kembali memanas pada Agustus 2026.
Bentrokan terjadi pada 28 Agustus 2026 di kawasan Inti 1 PT SAL, Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam. Peristiwa ini bukan persoalan baru, melainkan bagian dari konflik panjang yang telah berlangsung sejak 2018.
BACA JUGA:Bantuan Jalan, Konflik Lahan Jalan Terus, Ada Apa dengan PT SAL dan SAD?
Ketegangan dipicu persoalan ruang hidup, lahan, hingga aktivitas pengambilan Tandan Buah Segar (TBS) sawit di kawasan perkebunan. Konflik kembali mencuat pada 2020 dan sempat diupayakan penyelesaiannya melalui mediasi Pemerintah Kabupaten Sarolangun bersama Forkopimda pada 17 April 2026.
Dalam mediasi tersebut, kedua pihak sepakat menahan diri dan mencari solusi terkait persoalan TBS serta kondisi sosial masyarakat adat.
Namun, kesepakatan tersebut kembali diuji. Pada 28 Agustus 2026, anggota TNI dari Yonif 896/Serumpun Pseko yang diperbantukan mengamankan aset perusahaan menegur warga SAD yang diduga mengambil TBS. Teguran berkembang menjadi cekcok dan berujung bentrokan.
BACA JUGA:5 Warga SAD Pelaku Pengeroyokan Oknum TNI di Air Hitam Serahkan Diri Ke Polisi
Lima personel TNI dilaporkan menjadi korban pengeroyokan, sementara mobil operasional kepala kebun PT SAL mengalami kerusakan.
Di balik persoalan TBS, konflik ini menyimpan masalah yang lebih kompleks, yakni persinggungan ruang hidup Orang Rimba dengan kawasan perkebunan yang memiliki legalitas formal.
Bagi masyarakat SAD, kawasan tersebut merupakan bagian dari ruang hidup dan wilayah jelajah yang secara turun-temurun digunakan untuk berburu dan meramu. Sementara bagi perusahaan, kawasan perkebunan merupakan wilayah usaha yang memiliki dasar hukum.
Terbatasnya ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat adat kemudian menjadi salah satu persoalan yang terus memicu gesekan.
Karena itu, penyelesaian konflik dinilai tidak cukup hanya melalui pendekatan keamanan. Mediasi, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pemukiman, serta program CSR perusahaan menjadi bagian penting untuk mencari solusi jangka panjang.
Rentetan konflik sejak 2018 hingga bentrokan Agustus 2026 menunjukkan persoalan SAD dan PT SAL belum benar-benar selesai.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: