Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Muara Bulian Merajut Asa Lewat Olahan Tempe
Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Muara Bulian Merajut Asa Lewat Olahan Tempe-Pirdana Atrio-Jambi TV
BATANG HARI, JAMBITV.CO - Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari. Semangat untuk berubah terus tumbuh melalui pembinaan kemandirian. Salah satunya diwujudkan lewat kegiatan produksi olahan tempe yang dikelola oleh warga binaan sebagai bekal keterampilan setelah bebas nanti.
Setiap hari, warga binaan mampu memproduksi hingga 80 batang tempe. Seluruh proses, mulai dari pemilihan kedelai, perebusan, fermentasi hingga pengemasan dilakukan secara mandiri dengan pendampingan petugas lapas, sehingga menghasilkan tempe yang berkualitas dan siap di pasarkan.
“Alhamdulillah saat ini ada sekitar 70 sampai 80 batang yang kita produksi dalam per hari,” kata Jali, seorang warga binaan Lapas Kelas II B Muara Bulian.
Menurutnya, hasil program pembinaan yang ia jalani di Lapas ini. Akan ditekuninya sebagai modal usahanya nanti ketika sudah bebas atau kembali ke lingkungan masyarakat.
“Akan terus saya tekuni, kalau sudah bebas pun nantinya saya akan manfaatkan ilmu ini untuk membuka usaha tempe,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Kegiatan Kerja Lapas Kelas II B Muara Bulian, Andri Rinanda Ilham mengatakan. Bahwa Program ini menjadi bagian dari upaya Lapas Muara Bulian dalam membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah bebas.
“Alhamdulillah, hasil produksi tempe saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan bahan makanan untuk di dapur lapas. kualitasnya sangat baik dan dipastikan tanpa bahan pengawet,” katanya.
Menurutnya, keterampilan ini tidak hanya mengajarkan bagaimana mengolah pangan dengan baik. Akan tetapi juga menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, serta semangat berwirausaha. Sehingga hasil produksi tempe ini nantinya dapat di pasarkan secara luas kepada masyarakat, dan menjadi salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi bagi warga binaan.
“Kalau saat ini fokusnya masih di pasarkan untuk dapur Lapas. Tapi ada beberapa waktu kami juga pasarkan ke luar lapas, seperti ke warung-warung yang ada di sekitar lapas,” jelasnya.
Program tersebut juga menjadi bukti bahwa proses pembinaan di dalam lapas tidak hanya berorientasi pada pembinaan kepribadian. Tetapi juga penguatan kemampuan kerja, melalui keterampilan yang dimiliki warga binaan. Sehingga nantinya diharapkan dapat lebih siap menjalani kehidupan baru, mandiri secara ekonomi, dan berkontribusi positif di tengah masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: jambitv.disway.id