Petani Mengeluh, Harga Komoditas pinang di Tanjabtim Kembali Merosot

Petani Mengeluh, Harga Komoditas pinang di Tanjabtim Kembali Merosot

Petani Mengeluh, Harga Komoditas pinang di Tanjabtim Kembali Merosot-Wahyu-Jambitv.co

MUARASABAK, JAMBITV.CO –  salah satu komoditas unggulan petani di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), kembali mengalami penurunan. Setelah sempat menyentuh Rp22 ribu per kilogram untuk kualitas super, kini harga di tingkat pengepul turun menjadi Rp17 ribu hingga Rp18 ribu per kilogram.

Penurunan harga tersebut terjadi di saat produksi pinang petani justru meningkat. Kondisi ini dikeluhkan petani karena hasil panen yang melimpah tidak diimbangi dengan harga jual yang menguntungkan.

Sejumlah pengepul menyebutkan, anjloknya harga pinang dipengaruhi oleh tersendatnya arus pembayaran dari pembeli atau toke besar. Meski permintaan pasar dinilai masih tinggi, proses pembayaran yang lambat membuat perputaran modal para pengepul ikut terhambat.

"Permintaan sebenarnya masih tinggi, hanya saja pembayarannya yang sedang sulit," ujar Assek, salah seorang pengepul pinang di Kecamatan Sabak Barat.

Menurutnya, hingga kini masih banyak pinang milik petani yang belum terbayarkan karena pembayaran dari toke besar belum terealisasi. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap harga beli di tingkat petani.

"Kami tetap siap menampung hasil panen petani dengan harga yang sudah ditetapkan apabila menggunakan sistem pembayaran tempo. Namun jika petani menginginkan pembayaran tunai, kemampuan kami untuk menyerap hasil panen sangat terbatas," katanya.

BACA JUGA:Jambi Alami Inflasi 0,52 Persen pada Juni 2026, Kenaikan Harga BBM Jadi Salah Satu Pemicu

Assek menambahkan, situasi seperti ini bukan kali pertama terjadi dalam perdagangan pinang. Menurutnya, kelancaran transaksi sangat bergantung pada kepercayaan antara petani, pengepul, hingga toke besar.

"Kalau petani masih percaya kepada kami, insya Allah barang tetap kami ambil. Tetapi jika petani memilih menyimpan hasil panennya, kami juga tidak bisa berbuat banyak," jelasnya.

Selain pinang, komoditas andalan lainnya, yakni kelapa dalam, juga belum menunjukkan tren kenaikan harga yang signifikan sejak awal tahun. Di sisi lain, petani tidak memiliki banyak pilihan untuk menunda panen karena berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Petani berharap dalam beberapa pekan ke depan terjadi perbaikan harga terhadap komoditas perkebunan unggulan tersebut agar pendapatan mereka kembali meningkat.

Rendahnya harga kelapa dalam dipengaruhi masih minimnya permintaan ekspor sejak awal tahun 2026. Kondisi tersebut menyebabkan harga jual di tingkat petani belum mampu mengalami kenaikan yang berarti.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: