MUAROJAMBI, JAMBITV.CO - Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi mulai terdeteksi meski wilayah ini masih berada dalam musim hujan. Sejumlah titik panas atau hotspot terpantau melalui citra satelit.
Meski curah hujan masih terjadi di sejumlah wilayah, kemunculan titik panas di Provinsi Jambi menjadi sinyal awal potensi bencana kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan pemantauan citra satelit Aqua, terdeteksi ratusan hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten. Temuan ini menjadi peringatan dini bagi seluruh pemangku kepentingan, agar segera memperkuat langkah mitigasi sebelum memasuki musim kemarau. Dalam diskusi yang digelar lembaga konservasi lingkungan, KKI Warsi Jambi, isu kerusakan lahan dan ancaman karhutla menjadi sorotan utama.
Senior Advisor KKI Warsi Jambi, Rudi Syaf menyebutkan, terdapat 195 titik hotspot yang terdeteksi dalam pemantauan terbaru. Menurutnya kemunculan titik panas tersebut berkaitan dengan menurunnya curah hujan pada Januari dan Februari lalu. Kondisi ini perlu diwaspadai agar tidak berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan, skala besar. Warsi menilai, langkah pencegahan harus menjadi prioritas utama, termasuk melalui penguatan patroli lapangan, peningkatan kesiapsiagaan satgas, serta penegakan hukum bagi pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan.
BACA JUGA:Karhutla di Batanghari Meluas, 70,3 Hektar Lahan Hangus Terbakar
“Hotspot yang kami pantau hanya dari bulan Januari, tapi itu cukup mencemaskan. Dalam dua bulan ketika terjadi kemarau langsung muncul hotspot. Poinnya, memang kita sudah punya historical, setiap kemarau ada api. Jangan historical itu terabaikan begitu saja sehingga kita tidak lagi mengantisipasi untuk yang berikut ini,” ungkap Rudi Syaf, Senior Advisor KKI Warsi Jambi.
Data pemantauan menunjukkan, dari 195 titik panas yang terdeteksi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak yaitu 76 titik, disusul Kabupaten Muaro Jambi 34 titik, kemudian Sarolangun dan Merangin masing-masing 20 titik, Tanjung Jabung Timur 16 titik, Tebo 10 titik, dan Batanghari 9 titik. Sementara itu, di wilayah pegunungan, Kabupaten Kerinci terdeteksi 5 titik panas, Kota Sungai Penuh 3 titik dan Kabupaten Bungo 2 titik hotspot.