MUAROJAMBI, JAMBITV.CO —Status Kabupaten Muaro Jambi sebagai daerah penyangga Ibu Kota Provinsi Jambi belum sepenuhnya tercermin dalam kualitas pasar kerjanya. Alih-alih melaju, kondisi ketenagakerjaan justru terjebak dalam stagnasi selama tiga tahun terakhir.
Sepanjang 2025, kabupaten berjuluk Bumi Sailun Salimbai ini mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,02 persen. Angka tersebut menempatkan Muaro Jambi sebagai daerah dengan TPT tertinggi kedua di Provinsi Jambi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Muaro Jambi menunjukkan, jumlah pengangguran pada 2025 mencapai 12.015 orang. Jumlah ini nyaris tidak bergeser dibandingkan dua tahun sebelumnya—12.590 orang pada 2023 dan 11.828 orang pada 2024.
Kepala BPS Kabupaten Muaro Jambi, Edy Subagiyo, menilai kondisi ini sebagai sinyal kuat adanya persoalan ketenagakerjaan yang bersifat struktural.
BACA JUGA:Wabup Junaidi Buka Konsultasi Publik RKPD 2027, Tekankan Partisipasi dan Penguatan Sektor Unggulan
“Persentase pengangguran bisa saja turun, tetapi secara absolut jumlahnya tetap karena angkatan kerja terus bertambah,” kata Edy.
Sepanjang 2025, jumlah angkatan kerja Muaro Jambi melonjak menjadi 239.183 orang, naik signifikan dari 224.271 orang pada 2024. Kenaikan ini sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk bekerja, dari 212.445 orang menjadi 227.168 orang.
Namun, Edy menegaskan, laju penciptaan lapangan kerja belum mampu mengimbangi derasnya masuk pencari kerja baru.
“Akibatnya, pengangguran tetap bertahan di kisaran 12 ribu orang,” ujarnya.
Di sisi lain, jumlah penduduk bukan angkatan kerja justru menyusut tajam, dari 94.460 orang pada 2024 menjadi 84.804 orang pada 2025. Kondisi ini mendorong Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik dari 70,36 persen menjadi 73,82 persen.
Jika ditarik lebih jauh, pada 2023 TPAK Muaro Jambi bahkan sempat mencapai 74,38 persen, dengan TPT berada di angka 5 persen.
BACA JUGA:Bupati Muaro Jambi Tegaskan DPA Bukan Formalitas: “Setiap Rupiah Harus Berdampak untuk Rakyat”
“Artinya, selama tiga tahun terakhir perbaikan pasar kerja berjalan lambat dan cenderung stagnan,” jelas Edy.
Menurutnya, kunci untuk keluar dari jebakan pengangguran struktural ini terletak pada peningkatan kualitas tenaga kerja dan perluasan lapangan kerja, terutama bagi generasi muda.
“Muaro Jambi harus menyiapkan strategi jangka panjang—mulai dari penguatan pendidikan vokasi, pelatihan berbasis kebutuhan industri, hingga kemitraan dengan sektor usaha. Jangan sampai pengangguran menjadi bayang-bayang permanen pembangunan daerah,” tegasnya.(*)