Rizkia Ungkap Beratnya Gemblengan Paskibraka Nasional 2026
Rizkia Putri--
JAMBITV.CO – Menjadi anggota Paskibraka Nasional bukan sekadar berdiri tegap di hadapan jutaan pasang mata. Di balik penampilan sempurna saat upacara, ada latihan panjang, disiplin ketat hingga pengorbanan waktu sekolah dan kehidupan pribadi.
Hal itu dirasakan langsung Rizkia Putri, siswi SMA Negeri 3 Kota Jambi yang terpilih menjadi anggota Paskibraka Nasional 2026.
Rizkia mengungkapkan salah satu tantangan terbesar selama proses persiapan adalah membagi waktu antara sekolah dan latihan.
BACA JUGA:Rizkia Putri Tembus Paskibraka Nasional 2026
Sejak pagi ia harus mengikuti kegiatan belajar. Namun selepas sekolah, Rizkia tidak langsung pulang.
Ia langsung mengikuti latihan Paskibra hingga sore bahkan malam.
“Dari pagi sekolah, sore itu tidak pulang, langsung latihan. Sabtu Minggu juga latihan,” ungkap Rizkia dalam Podcast Jambi TV.
Akibatnya, tugas sekolah pun menumpuk.
Kondisi tersebut semakin terasa ketika dirinya mengikuti pendidikan dan pelatihan di Jakarta. Selama sekitar 40 hari, Rizkia harus fokus menjalani berbagai kegiatan dan tidak diperbolehkan menggunakan telepon seluler.
BACA JUGA:Karhutla Batang Hari Belum Padam, Gubernur Al Haris Perkuat Operasi Darat dan Udara
“Empat puluh hari. HP-nya dikumpul,” ujarnya.
Rutinitas yang sama setiap hari sempat membuat Rizkia dan peserta lainnya mengalami homesick dan kejenuhan.
Mereka harus bangun sekitar pukul 03.30 WIB, menjalani ibadah pagi, sarapan, mengikuti materi, kemudian berlatih di lapangan.
Memasuki masa latihan, aktivitas fisik semakin padat. PBB, latihan baris-berbaris dan berbagai kegiatan lain harus dijalani dengan disiplin.
Rizkia bahkan mengaku sempat terpikir untuk menyerah.
BACA JUGA:Konflik Warga 2 Desa di Muaro Jambi Berujung Damai, Bupati: Jangan Sampai Cucu Kita Bertengkar
Namun kondisi tersebut justru membentuk rasa kebersamaan antarpeserta.
“Di situ tumbuh rasa korsa, jiwa korsa. Apa-apa sama-sama, dihukum pun sama-sama, jadi saling menguatkan,” katanya.
Peserta dari berbagai daerah di Indonesia juga harus beradaptasi dengan karakter dan kebiasaan yang berbeda.
Ketika persoalan muncul, mereka bisa menyelesaikannya secara langsung jika masalah masih kecil. Untuk persoalan yang lebih besar, peserta dapat berkonsultasi dengan pamong maupun psikolog.
Dukungan medis juga tersedia selama pendidikan. Rizkia menyebut dokter dan tenaga kesehatan bersiaga selama 24 jam. Peserta juga mendapatkan jadwal fisioterapi dan konsultasi psikolog.
“Kalau ada keluhan jangan diam. Sakit awal-awal langsung diobati,” ujarnya.
Di tengah padatnya latihan, Rizkia tetap harus menyelesaikan kewajibannya sebagai pelajar.
Karena tidak mengetahui tugas sekolah yang diberikan selama berada di Jakarta, ia meminta bantuan teman-temannya untuk mengetahui tugas yang harus dikerjakan.
Tugas tersebut kemudian dikerjakan secara bertahap.
Hingga kini, masih ada tugas sekolah yang harus diselesaikannya.
Namun perjuangan tersebut tidak sia-sia. Setelah melewati seluruh proses, Rizkia merasa dirinya jauh lebih disiplin dibandingkan sebelum mengikuti Paskibraka.
“Sekarang lebih disiplin. Kalau dulu sering di kamar main HP, sekarang sudah terbiasa tanpa HP,” katanya.
Pengalaman tersebut juga membuat Rizkia memahami bahwa keberhasilan tidak datang tanpa pengorbanan.
Bagi siswi SMA Negeri 3 Kota Jambi itu, disiplin, kemampuan mengatur waktu, dukungan teman dan keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan hingga berhasil membawa nama Jambi ke tingkat nasional.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: