Karhutla Jambi Belum Usai, Ivan Wirata: Api Bisa di Satu Kabupaten, Asap Tak Mengenal Batas
--
KOTA JAMBI, JAMBITV.CO - Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT mengingatkan pemerintah daerah dan seluruh Satgas Karhutla agar tidak mengendurkan kesiapsiagaan meskipun jumlah hotspot harian mulai berfluktuasi turun.
Berdasarkan Laporan Situasi Karhutla Provinsi Jambi per 27 Agustus 2026 pukul 19.00 WIB, hotspot kumulatif sepanjang 2026 telah mencapai 4.682 titik, dengan estimasi luas lahan terbakar sekitar 954,41 hektare.
Pada 27 Agustus pukul 00.00–16.00 WIB, laporan Satgas mencatat 56 hotspot. Secara kumulatif, Sarolangun masih menjadi wilayah dengan hotspot tertinggi, yakni 1.201 titik, disusul Tanjung Jabung Barat 894 titik dan Muaro Jambi 746 titik.
Ivan mengatakan angka tersebut menunjukkan Karhutla Jambi harus dipandang sebagai persoalan lintas wilayah dan tidak lagi cukup ditangani dengan pendekatan administratif per kabupaten.
“Api mungkin berada di satu kabupaten, tetapi asap tidak mengenal batas administrasi. Karena itu Karhutla Jambi harus kita tangani sebagai satu lanskap, satu sistem air, satu sistem udara, satu data dan satu komando,” kata Ivan.
BACA JUGA:Karhutla Jambi Makin Serius, Hotspot Tembus 4.412 Titik dan 954 Hektare Lahan Terbakar
Tebo Jadi Alarm Baru, ISPU Capai Level Berbahaya
Perhatian serius menurut Ivan saat ini justru terdapat pada kualitas udara. Laporan Satgas 27 Agustus mencatat ISPU Tebo 345 atau kategori berbahaya, sementara Muaro Jambi berada pada 123 dan Kota Jambi 103, keduanya kategori tidak sehat. Tanjung Jabung Timur tercatat 65 atau kategori sedang.
BPBD Provinsi Jambi menjelaskan tingginya ISPU di Tebo berkaitan dengan asap Karhutla yang terbawa angin dari arah Sarolangun menuju Tebo. BPBD juga mencatat luas Karhutla Jambi telah mencapai sekitar 954 hektare.
Kondisi kualitas udara buruk di Tebo juga terpantau dalam pemantauan ISPU nasional. Pada malam 26 Agustus, Tebo tercatat mencapai ISPU 339 dan termasuk kategori berbahaya.
Ivan mengatakan fenomena tersebut menjadi pelajaran penting bahwa lokasi kebakaran dan lokasi masyarakat yang menerima dampak asap bisa berbeda.
“Ini yang harus menjadi perhatian. Kalau api berada di Sarolangun tetapi asap bergerak ke Tebo, maka sistem kita tidak cukup hanya menunjukkan titik api. Kita juga harus mampu memprediksi ke mana asap bergerak dan masyarakat mana yang harus dilindungi.”
DPRD Dorong Fire and Smoke Early Warning System
Ivan mendorong Pemprov Jambi mengembangkan Fire and Smoke Early Warning System yang mengintegrasikan data hotspot, arah dan kecepatan angin, PM2.5/ISPU, curah hujan, muka air gambut, sumber air, serta posisi jaringan Pos Karhutla.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: