302,93 Hektare Lahan di Muaro Jambi Terbakar, Mayoritas Gambut
302,93 Hektare Lahan di Muaro Jambi Terbakar, Mayoritas Gambut-Yasri-Jambitv.co
MUAROJAMBI, JAMBITV.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Muaro Jambi kian mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu kurang dari enam bulan, sedikitnya 42 kasus karhutla terjadi dengan total luasan lahan terbakar mencapai 302,93 hektare.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muaro Jambi mencatat, karhutla tersebut terjadi sejak 3 Maret hingga 24 Agustus 2026 dan tersebar di tujuh kecamatan.
Yang menjadi perhatian serius, mayoritas lahan yang terbakar merupakan lahan gambut. Dari total 302,93 hektare lahan yang terbakar, sekitar 255,50 hektare merupakan gambut, sementara 47,43 hektare lainnya merupakan lahan mineral.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Muaro Jambi, Anari Hasiholan Sitorus, mengatakan Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko) menjadi wilayah dengan kasus karhutla terbanyak, yakni 14 kejadian.
BACA JUGA:Kebarakan Lahan Gambut Di Sungai Abang, Luas Lahan Sudah Lebih Dari 20 Hektar
“Data sementara yang kami catat, sejak 3 Maret sampai 24 Agustus 2026 ada 42 kasus karhutla di Muaro Jambi,” kata Anari, Rabu (26/8) siang.
Selain Jaluko, karhutla juga terjadi di Kecamatan Sekernan dan Kumpeh yang masing-masing mencatat 9 kasus. Selanjutnya Mestong 5 kasus, Sungai Gelam 3 kasus, Maro Sebo 1 kasus, serta Taman Rajo 1 kasus.
Tren kejadian menunjukkan karhutla mulai meningkat memasuki pertengahan tahun. Pada Maret tercatat tiga kasus, kemudian melonjak menjadi 14 kasus pada Juli.
Sementara itu, sebanyak 25 kasus lainnya terjadi hingga 24 Agustus 2026.
BACA JUGA:Karhutla Kembali Mengamuk di Seponjen, 10 Hektare Lahan Terbakar di Tengah Gelap
“Kasusnya memang meningkat pada Juli dan Agustus. Kondisi ini menjadi perhatian kami karena sebagian besar lahan yang terbakar merupakan lahan gambut,” ujar Anari.
Dominasi lahan gambut membuat penanganan karhutla tidak bisa dilakukan secara sederhana. Api yang tampak padam di permukaan belum tentu benar-benar mati.
Pada lahan gambut, api dapat menjalar dan bertahan di lapisan bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat bara berpotensi kembali muncul dan memicu kebakaran susulan.
“Untuk lahan gambut, penanganannya memang tidak cukup hanya memadamkan api yang terlihat di permukaan. Kami harus memastikan titik api benar-benar padam agar tidak kembali terbakar,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: