Big Universities, Small Skills? Ketika Kampus Makin Banyak, Lulusan Justru Makin Sulit Bekerja
--
Oleh:
Refky Fielnanda
Ada sebuah keyakinan yang hampir tidak pernah kita pertanyakan: semakin banyak orang berkuliah, semakin baik masa depan tenaga kerja suatu negara. Logikanya sederhana. Pendidikan tinggi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Keterampilan meningkatkan produktivitas. Produktivitas meningkatkan peluang kerja dan pendapatan. Karena itu, memperluas akses ke perguruan tinggi seharusnya menjadi investasi penting bagi pembangunan ekonomi.
Tetapi bagaimana jika bagian terakhir dari logika tersebut ternyata tidak selalu berjalan?
Sebuah penelitian lintas negara terhadap 28 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) selama 2019–2023 menemukan pola yang cukup mengejutkan. Semakin luas partisipasi pendidikan tinggi, justru semakin tinggi pula tingkat pengangguran di kalangan penduduk berpendidikan tinggi.
Temuan ini tentu tidak berarti bahwa kuliah menyebabkan seseorang menganggur. Penelitian tersebut menemukan hubungan statistik, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat. Namun, polanya cukup kuat untuk membuat kita bertanya kembali: apakah memperbanyak orang masuk perguruan tinggi otomatis berarti memperbaiki hasil mereka di pasar kerja?
Jawabannya tampaknya tidak sesederhana itu.
Penelitian tersebut menggunakan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi sebagai salah satu ukuran ekspansi pendidikan tinggi. Secara sederhana, APK menggambarkan seberapa besar populasi yang mengikuti pendidikan tinggi dibandingkan dengan kelompok usia yang secara resmi berada pada jenjang tersebut.
Hasilnya cukup mencolok. Kenaikan APK pendidikan tinggi sebesar 10 poin persentase berkaitan dengan tingkat pengangguran lulusan yang sekitar 21 persen lebih tinggi. Hubungan tersebut tetap terlihat ketika peneliti menggunakan beberapa pendekatan statistik yang berbeda dan memperkuat pengujian dengan wild cluster bootstrap.
Namun, justru bagian berikutnya yang membuat temuan ini semakin menarik.
Ketika mendengar bahwa banyak lulusan perguruan tinggi menganggur, kita biasanya segera menunjuk satu tersangka: pasar kerja.
“Lulusannya terlalu banyak, tetapi lapangan kerja tidak tersedia.”
“Industri belum cukup berkembang.”
“Perguruan tinggi menghasilkan sarjana yang tidak sesuai kebutuhan dunia usaha.”
“Pasar kerja kita belum mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi.”
Semua penjelasan tersebut terdengar masuk akal. Bahkan selama bertahun-tahun, narasi skills mismatch dan keterbatasan daya serap pasar kerja menjadi salah satu cara utama untuk memahami pengangguran lulusan Tetapi penelitian ini menguji penjelasan tersebut.
Hasilnya justru tidak memberikan dukungan.
Tingkat informalitas pasar kerja tidak terbukti mengubah hubungan antara ekspansi pendidikan tinggi dan pengangguran lulusan. Kedalaman sektor manufaktur juga tidak menunjukkan peran moderasi yang signifikan. Demikian pula beberapa ukuran institusional dan kecepatan ekspansi pendidikan tinggi tidak menjelaskan pola tersebut.
Dengan kata lain, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa lulusan menganggur karena pasar kerja belum mampu menyerap mereka.
Ada sesuatu yang lebih kompleks.
Salah satu temuan penelitian justru mengarah pada kemungkinan yang sering luput dari perhatian: penarikan diri dari pasar kerja.
Ketika pengangguran lulusan meningkat, tingkat partisipasi angkatan kerja penduduk berpendidikan tinggi justru menurun secara signifikan. Artinya, persoalan yang dihadapi lulusan mungkin bukan hanya “saya mencari pekerjaan tetapi belum mendapatkannya”. Sebagian orang yang berulang kali menghadapi sulitnya memperoleh pekerjaan dapat berhenti mencari pekerjaan sama sekali.
Secara statistik, orang tersebut bahkan bisa tidak lagi dihitung sebagai penganggur karena ia tidak lagi berada dalam angkatan kerja.
Di sinilah kita perlu berhati-hati membaca angka pengangguran.
Bayangkan seorang sarjana yang telah berbulan-bulan mengirim lamaran pekerjaan tetapi tidak memperoleh hasil.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: