"Hadapi AI dengan berita on the ground atau on the spot, karena metode ini belum bisa disajikan oleh AI," ujarnya.
Selain itu, ia mendorong media untuk memperkuat produksi konten real time melalui eksplorasi visual, seperti video pendek dan infografis.
Konten human interest juga dinilai sulit digantikan AI karena menyangkut emosi dan empati manusia.
"AI tidak punya emosi. Etika jurnalistik harus tetap menjadi roh profesi wartawan di tengah hiruk-pikuk konten kecerdasan buatan," tegas Nezar dalam sesi yang dimoderatori Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang.
Nezar juga mengingatkan risiko AI terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara jika tidak digunakan secara bijak, terutama potensi misinformasi dan manipulasi konten.
Ia menyinggung maraknya konten palsu berbasis AI, seperti foto dan video dengan latar yang tidak pernah terjadi, namun justru digemari publik.