Krisis Adab dalam Pendidikan: Membaca Kekerasan Guru dan Murid dari Perspektif Ta’dib

Minggu 18-01-2026,11:30 WIB
Reporter : Admin
Editor : Suci Mahayanti

Pemikir Muslim kontemporer, Syed Muhammad Naquib al-Attas, memberikan kerangka konseptual yang relevan untuk membaca krisis ini. Ia menyatakan bahwa problem utama pendidikan modern bukan sekadar loss of knowledge, melainkan loss of adab—keruntuhan atau kehancuran adab—yang melahirkan kekacauan dalam ilmu, ketidakadilan dalam relasi sosial, serta krisis otoritas. Menurut Al-Attas (1980), hilangnya adab menyebabkan pendidikan kehilangan orientasinya, karena tidak lagi mampu menempatkan segala sesuatu pada posisi yang tepat: guru sebagai otoritas moral dan intelektual, murid sebagai pencari ilmu, dan ilmu sebagai amanah yang harus dihormati.

Konsep ta’dib yang ditawarkan Al-Attas memandang pendidikan sebagai proses penanaman kesadaran akan tatanan hierarkis yang adil. Ketika pendidikan direduksi menjadi urusan administratif dan teknokratis, dimensi adab terpinggirkan, dan konflik seperti kasus di Jambi menjadi keniscayaan. Pendidikan modern sering kali mengabaikan aspek spiritual dan etis, sehingga gagal membentuk manusia yang beradab.

 

*PAI dan Tantangan Relasional*

Dalam konteks sekolah, Pendidikan Agama Islam (PAI) seharusnya menjadi jantung pembinaan adab dan akhlak. Namun, realitas menunjukkan bahwa PAI sering terjebak pada pendekatan kognitif dan evaluatif—mengukur hafalan dan pemahaman konseptual—bukan internalisasi nilai dalam kehidupan sehari-hari. Kasus kekerasan ini mengindikasikan bahwa nilai adab belum sepenuhnya hidup dalam budaya sekolah, meskipun diajarkan dalam mata pelajaran agama. Ini menjadi kritik reflektif bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan, khususnya pendidik PAI, untuk mereorientasi pendekatan pembelajaran dari sekadar transfer nilai menuju pembentukan karakter relasional yang konkret, seperti dialog empati dan resolusi konflik berbasis etika Islam.

 

*Penutup: Rekonstruksi Paradigma Pendidikan*

Kasus kekerasan guru dan murid di Jambi hendaknya tidak disikapi secara reaktif dan parsial melalui pendekatan hukum serta sanksi semata, meskipun hal itu penting untuk menegakkan keadilan. Dunia pendidikan membutuhkan rekonstruksi paradigma yang lebih mendasar, dengan menempatkan adab sebagai ruh pendidikan. Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia melalui penanaman nilai-nilai luhur. Tanpa adab, ilmu kehilangan makna; tanpa adab, guru kehilangan kewibawaan; dan tanpa adab, murid kehilangan arah masa depan.

Sudah saatnya pendidikan kita kembali pada esensi terdalamnya: ta’dib sebagai inti dari pendidikan karakter, yang mengintegrasikan ilmu, etika, dan spiritualitas secara holistik. Hanya dengan demikian, kita dapat mencegah kasus serupa dan membangun generasi yang beradab serta berkontribusi positif bagi bangsa.

 

Oleh: Ade Putra Hayat Mahasiswa Program Studi PAI S3 UIN Sjech. M. Djamil Djambek Bukittinggi (Dosen IAIN Kerinci)

Kategori :