677,3 Hektare Kawasan Tahura Sultan Thaha Syaifuddin di Batang Hari Hangus Terbakar

677,3 Hektare Kawasan Tahura Sultan Thaha Syaifuddin di Batang Hari Hangus Terbakar

677,3 Hektare Kawasan Tahura Sultan Thaha Syaifuddin di Batang Hari Hangus Terbakar-Pirdana Atrio-Jambi TV

BATANG HARI, JAMBITV.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Batang Hari, berdampak signifikan terhadap kawasan hutan. Dari total sekitar 1.316,11 hektare lahan yang terbakar sepanjang 2026, sebanyak 677,3 hektare di antaranya berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Thaha Syaifuddin.

Luas lahan Tahura yang terbakar tersebut, mencapai lebih dari 50 persen dari total luas lahan yang terdampak karhutla di Kabupaten Batang Hari.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Batang Hari, Sholihin mengatakan, kawasan Tahura Sultan Thaha Syaifuddin membentang di sejumlah wilayah Kecamatan. Yakni Muara Bulian, Bajubang, Muara Tembesi, hingga Kecamatan Batin XXIV.

“Dari sejumlah wilayah tersebut, kebakaran terluas terjadi di Kecamatan Muara Bulian. Luas lahan Tahura yang terbakar di wilayah ini diperkirakan mencapai lebih dari 663 hektare,” ungkapnya.

Sementara itu, kata Sholihin, lahan yang terbakar lainnya berada di wilayah Kecamatan Muara Tembesi dan Bajubang. Luas kawasan Tahura yang terbakar mengalami peningkatan signifikan pada September 2026. Sebelumnya, sejak Januari hingga awal September, luas kawasan Tahura yang terdampak kebakaran diperkirakan baru mencapai sekitar 297 hektare.

“Namun dalam perkembangannya, kebakaran meluas sehingga total kawasan Tahura yang hangus mencapai sekitar 677,3 hektare,” jelasnya.

Luas Hutan dan Lahan Terbakar di Batanghari Capai 1.316 Hektare

Menurut BPBD Batang Hari, kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Daerah setempat. Mengingat kawasan Tahura merupakan kawasan hutan yang memiliki fungsi penting bagi lingkungan.

Sementara terkait peristiwa kebakaran di kawasan Tahura Sultan Thaha Syaifuddin ini, diduga kuat berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan secara ilegal, dengan metode pembakaran. Dugaan tersebut diperkuat dengan ditemukannya sejumlah titik bekas kebakaran yang telah ditanami kelapa sawit.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian kawasan yang terbakar diduga tidak hanya terdampak karhutla, tetapi juga telah dimanfaatkan untuk aktivitas perkebunan.

Pemerintah Daerah bersama pihak terkait juga terus melakukan penanganan, dan pemantauan terhadap kawasan yang terdampak kebakaran guna mencegah meluasnya karhutla serta menjaga fungsi kawasan hutan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: