Sungai Batanghari Makin Keruh, Tirta Mayang Tambah Bahan Kimia dan Kurangi Debit
Sungai Batanghari Makin Keruh, Tirta Mayang Tambah Bahan Kimia dan Kurangi Debit-Rudiansyah-Jambitv.co
KOTAJAMBI, JAMBITV.CO — Meningkatnya kekeruhan air baku Sungai Batanghari membuat Perumda Tirta Mayang Kota Jambi melakukan penyesuaian dalam proses pengolahan air. Selain mengurangi debit produksi, penggunaan bahan kimia untuk menjernihkan air juga ditingkatkan.
Direktur Utama Perumda Tirta Mayang Kota Jambi, Arianto, mengatakan pihaknya saat ini telah menggunakan bahan kimia untuk membantu menjernihkan air yang memiliki tingkat kekeruhan tinggi.
Namun, penggunaan bahan kimia tersebut memiliki batas kemampuan dalam menangani air dengan tingkat kekeruhan yang sangat tinggi. Kondisi tersebut membuat Tirta Mayang harus mengurangi debit air yang diproduksi agar proses pengolahan tetap dapat menghasilkan air sesuai standar kualitas.
BACA JUGA:Bupati Fadhil Arief dan Zulva Resmi Luncurkan Aplikasi Rumah Bunda di Batanghari
"Untuk tahun ini memang salah satu program prioritas Presiden itu adalah nama PSN, apa... program prioritas nasional sebenarnya. Yang menjadi apa... apa saja tujuan pemerintah itu? Satu, percepatan revitalisasi. Yang kedua, pembentukan sekolah rakyat. Kemudian yang berikutnya, digitalisasi pembelajaran. Itu diatur di Inpres Nomor 7 Tahun 2025. Nah, salah satu bentuk dari kegiatan itu dilakukanlah proses perbaikan sekolah-sekolah yang ada. Kota Jambi tahun 2025 itu ada 16 yang kita terbanyak ke SMP. Nah, tahun ini SMP-nya 5 dan SD yang lebih banyak. Saya tidak... tak tahu persis, hampir 39-an mungkin sudah ada yang dapat, lagi berproses untuk SD. Nah, inilah salah satu".
Arianto menyebut penggunaan bahan kimia saat ini meningkat lebih dari 10 persen dibandingkan kondisi normal. Penambahan dosis dilakukan dengan menyesuaikan tingkat kekeruhan air baku yang masuk ke Instalasi Pengolahan Air atau IPA.
Menurut Arianto, jika kekeruhan air baku sudah melebihi kemampuan proses pengolahan, penambahan bahan kimia tidak serta-merta membuat seluruh air dapat diolah.
Apabila debit air yang masuk terlalu besar, sebagian air justru tidak dapat diproses secara optimal dan berisiko terbuang.
Arianto menegaskan, pengurangan debit produksi dilakukan untuk menjaga hasil pengolahan agar tetap memenuhi standar kualitas air, terutama dari sisi warna dan bau, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: