Debit Sungai Fluktuatif Akibat Kemarau, Tirta Mayang Siapkan Pompa Floating

Debit Sungai Fluktuatif Akibat Kemarau, Tirta Mayang Siapkan Pompa Floating

Debit Sungai Fluktuatif Akibat Kemarau, Tirta Mayang Siapkan Pompa Floating-Rudiansyah-Jambitv.co

KOTAJAMBI, JAMBITV.CO - Kondisi Kemarau yang Terjadi di Kota Jambi Membuat Perumda Tirta Mayang Melakukan Sejumlah Antisipasi untuk Menjaga Produksi dan Distribusi Air Bersih kepada Masyarakat. Namun, Kondisi Terkini Justru Dihadapkan pada Peningkatan Kekeruhan Air Sungai yang Cukup Ekstrem, Sehingga Dilakukan Peninjauan ke Intake di Pulau Pandan.

Direktur Utama Perumda Tirta Mayang Kota Jambi, Arianto, mengatakan sebelumnya ketinggian air sungai sempat turun hingga 60 sentimeter akibat kemarau. Padahal, pompa air baku Tirta Mayang membutuhkan ketinggian air minimal sekitar satu meter agar dapat beroperasi secara optimal. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Tirta Mayang melakukan sejumlah langkah, di antaranya meningkatkan konstruksi pada bagian intake dengan memperpanjang pipa sadap. Selain itu, Tirta Mayang juga menyiapkan pompa floating yang saat ini masih dalam proses pengiriman dan ditargetkan tiba pada pekan depan. Namun, permasalahan lain muncul setelah terjadi hujan di wilayah hulu. Kondisi tersebut membuat ketinggian air sungai kembali meningkat, dari sekitar 60 sentimeter menjadi 230 sentimeter, bahkan sempat mencapai 250 hingga 300 sentimeter.

BACA JUGA:Polri Bersama TNI, BPBD dan Warga Padamkan Karhutla Seluas 5 Hektare di Sungai Duren

"Dengan kondisi kemarau saat ini, kami Tirta Mayang telah melakukan berbagai antisipasi. Salah satunya kami mengatasi kekeringan, yaitu kecilnya tinggi air sungai yang semakin turun, beberapa hari yang lalu hingga 60 cm, di mana pompa kami bisa beroperasi itu di atas 1 meter atau 100 cm. Sehingga kami melakukan aksi salah satunya peningkatan konstruksi di intake seperti yang kita lihat sendiri, yaitu memperpanjang pipa sadap," ujarnya.

Arianto menjelaskan, meski kenaikan ketinggian air menjadi kabar baik, air sungai justru mengalami peningkatan kekeruhan yang signifikan. Arianto menyebutkan, batas kekeruhan normal yang biasa dihadapi Tirta Mayang berada di kisaran 200 hingga 250 NTU. Namun, dalam beberapa hari terakhir, kekeruhan air sungai sempat menembus 4.500 NTU. Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu kekeruhan tertinggi yang pernah dihadapi Tirta Mayang sejak berdiri.

Untuk menjaga proses pengolahan air, Tirta Mayang terpaksa mengurangi produksi di sejumlah instalasi pengolahan air (IPA). Pengurangan produksi mencapai 30 persen di wilayah pelayanan IPA Intake Sejinjang dan IPA Tanjungsari. Sementara di wilayah pelayanan Pulau Pandan, pengurangan produksi mencapai 20 persen, sedangkan di Auduri sekitar lima persen. Arianto menjelaskan, saat ini tingkat kekeruhan air sungai sudah menurun menjadi sekitar 2.500 NTU. Namun, kondisinya masih fluktuatif karena kekeruhan kembali meningkat pada malam hari.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: