Tradisi Turun ke Sawah Dibuka Bupati, Warga Muaro Jambi Padati Keramat Panjang

Tradisi Turun ke Sawah Dibuka Bupati, Warga Muaro Jambi Padati Keramat Panjang

Tradisi Turun ke Sawah Dibuka Bupati, Warga Muaro Jambi Padati Keramat Panjang-Yasri-Jambitv.co

MUAROJAMBI, JAMBITV.CO – Nuansa sakral dan kebersamaan menyatu di Desa Desa Danau Kedap, Minggu (3/5/2026) pagi. Ratusan warga tumpah ruah mengikuti tradisi tahunan Ngantar Kembang dan Sedekah Payo Turun ke Umo yang resmi dibuka Bupati Bambang Bayu Suseno.

Kegiatan yang dipusatkan di pemakaman umum Keramat Panjang ini bukan sekadar seremoni adat, tetapi juga menjadi penanda dimulainya musim tanam padi sekaligus refleksi spiritual masyarakat setempat.

Sejak pagi, warga bersama tokoh adat dan alim ulama memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian Ngantar Kembang. Tradisi ini diisi dengan ziarah kubur, pembacaan Surah Yasin, tahlil, hingga doa bersama (haul) bagi para leluhur.

Suasana khidmat terasa saat doa dipanjatkan. Di sisi lain, momen ini juga menjadi ajang silaturahmi, terutama bagi warga yang pulang dari perantauan.

Tak berhenti di situ, prosesi berlanjut ke ritual Sedekah Payo Turun ke Umo. Dalam ritual ini, Bupati bersama masyarakat memanjatkan doa di area persawahan sebagai simbol dimulainya musim tanam.

Harapannya jelas: panen melimpah dan terbebas dari serangan hama.

BACA JUGA:Bupati BBS Hadiri Tasyakuran, Tegaskan Pengadilan Negeri Sengeti Naik Kelas Harus Diikuti Layanan Prima

“Tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga doa kolektif untuk masa depan pertanian kita,” ujar Bambang Bayu Suseno dalam sambutannya.

Ia menegaskan pentingnya menjaga tradisi lokal sebagai identitas daerah, sekaligus mendorong petani untuk terus meningkatkan produktivitas guna mendukung ketahanan pangan nasional.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Bupati juga menyerahkan bantuan bibit padi kepada kelompok tani setempat, disaksikan langsung oleh warga.

Kegiatan ditutup dengan makan bersama “di atas lengkat” — tradisi makan beralaskan daun dengan aneka hidangan khas. Suasana hangat penuh kekeluargaan pun terasa, menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan perekat sosial masyarakat Muaro Jambi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: