Pemkab Muaro Jambi Siaga Hadapi Ancaman Karhutla di Musim Kemarau Panjang
Pemkab Muaro Jambi Siaga Hadapi Ancaman Karhutla di Musim Kemarau Panjang-Yasri-Jambitv.co
MUAROJAMBI, JAMBITV.CO - Kemarau 2026 diprediksi datang lebih panjang, dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui. Pemerintah pun mulai bergerak cepat. Dari pusat hingga daerah, sinyal kewaspadaan sudah dinaikkan.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla di Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta, Selasa (7/4/2026), Bupati Muaro Jambi mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan bersama. Ia menegaskan, karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, tak ingin kecolongan. Ia meminta seluruh pemerintah daerah segera menetapkan status siaga darurat, memperkuat langkah pencegahan, serta memastikan kesiapan sumber daya—mulai dari personel, peralatan, hingga pendanaan. Tak hanya itu, satgas terpadu di semua level diminta kembali diaktifkan.
BACA JUGA:Evaluasi Arus Mudik–Balik Lebaran 2026 Tercatat ada 11 kasus Kecelakaan di Muaro Jambi
“Jangan menunggu api membesar. Pencegahan harus jadi prioritas utama,” tegasnya.
Berdasarkan pemetaan, potensi karhutla akan mulai meningkat di Riau pada Juni, lalu merambat ke Jambi dan Sumatera Selatan. Memasuki Juli hingga Agustus, ancaman diperkirakan meluas ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan—wilayah yang selama ini dikenal rentan karena bentang gambutnya yang luas.
Pemerintah juga menegaskan pendekatan tanpa kompromi terhadap pelaku pembakaran lahan. Penegakan hukum akan dilakukan tegas dan konsisten. Di sisi lain, masyarakat diimbau meninggalkan praktik membuka lahan dengan cara membakar yang selama ini masih kerap terjadi.
Enam provinsi menjadi fokus utama pengendalian karhutla tahun ini: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Wilayah-wilayah ini dinilai paling berisiko karena karakteristik lahannya yang mudah terbakar saat kemarau.
Langkah antisipasi ini bukan tanpa alasan. Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan potensi musim kemarau lebih panjang, diperkuat oleh kemungkinan munculnya fenomena El Nino lemah hingga moderat dengan probabilitas mencapai 50–80 persen pada paruh kedua 2026.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah menekankan satu hal: kolaborasi. Tanpa sinergi antara pemerintah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat, ancaman karhutla akan sulit dikendalikan.
Tahun ini, taruhannya jelas—apakah Indonesia mampu mencegah bencana asap terulang, atau kembali menghadapi krisis yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: