Kota Jambi Menang dan Sejarah Tak Bisa Diatur

Kota Jambi Menang dan Sejarah Tak Bisa Diatur

--

JAMBITV.CO,– Stadion Swarna Bhumi Pijoan sore itu tidak netral. Ia berdiri sebagai saksi, bukan penonton. Saat peluit akhir dibunyikan, satu hal menjadi jelas, sejarah tidak bisa diatur, tidak bisa dibisikkan, dan tidak tunduk pada nama besar apa pun.

Final Gubernur Cup Jambi 2026 berakhir dengan drama adu penalti, tapi kisah sesungguhnya sudah dimulai jauh sebelum titik putih menjadi penentu. Sejak menit pertama, laga ini terasa lebih dari sekadar final. Ini tentang harga diri, tentang membalik cerita lama, tentang keberanian menantang dominasi.

Merangin datang dengan status raja. Empat gelar sejak 2019, rekor pertemuan yang timpang, dan bayang-bayang sejarah yang selama ini menekan Kota Jambi. Bahkan, mereka datang sebagai tim dari kampung halaman Gubernur Jambi. Tapi sepak bola tidak membaca silsilah.

Permainan berjalan keras dan disiplin. Tidak ada ruang romantisme. Tidak ada penghormatan simbolik. Kota Jambi menekan, Merangin melawan. Serangan demi serangan gagal berbuah gol, seolah pertandingan sengaja disimpan untuk klimaks paling kejam: adu mental.

Saat adu penalti dimulai, Swarna Bhumi berubah menjadi ruang pengadilan. Ribuan pasang mata mengunci satu titik. Lima algojo Kota Jambi melangkah tanpa ragu. Lima tendangan, lima gol. Tanpa drama tambahan.

Dan ketika Ahmad Wildan maju sebagai penendang terakhir Merangin, Andika Baihaqi berdiri bukan sekadar sebagai kiper. Ia menjadi batas antara masa lalu dan masa depan. Tendangan itu ditepis. Sejarah pun jatuh ke pangkuan Kota Jambi.

Ledakan sorak membelah stadion. Dominasi Merangin runtuh bukan oleh provokasi, melainkan oleh ketenangan.

Di bawah arahan Saktiawan Sinaga, Kota Jambi menjelma dari penantang menjadi pemilik cerita. Mereka bukan lagi tim yang terjebak trauma pertemuan lama. Mereka menulis ulang narasi dengan caranya sendiri.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: