Dari Ladang ke Lapangan Garuda, Pasar Tani Jambi Menghidupkan Harapan Petani
--
PAGI ITU Lapangan Garuda belum sepenuhnya ramai. Namun di bawah tenda-tenda Pasar Tani, harapan sudah lebih dulu hadir. Karung sayur tersusun rapi. Cabai merah menyala. Pisang dan jeruk masih menyimpan embun pagi.
Bagi Sulaiman, petani sayur asal Muaro Jambi, hari itu terasa berbeda. Biasanya ia menunggu tengkulak datang ke kebun. Harga sering berubah. Kadang tak sebanding dengan biaya tanam. Di Pasar Tani, ia berdiri sendiri di balik lapak kecilnya.
“Hari ini kami jual langsung ke warga. Rasanya lebih adil,” ucapnya sambil melayani pembeli.
Pasar Tani yang digelar Pemerintah Provinsi Jambi dalam rangka HUT ke-69 Provinsi Jambi menjadi ruang pertemuan yang jarang terjadi. Petani bertemu konsumen tanpa sekat. Tidak ada perantara. Tidak ada permainan harga.
Di lapak sebelah, aneka sayuran cepat habis. Bayam, sawi, cabai, dan tomat berpindah tangan. Warga Kota Jambi datang sejak pagi. Mereka mencari harga yang lebih masuk akal.
“Harganya lebih murah dan segar. Kita tahu ini langsung dari petani,” kata Rina, warga Telanaipura, sambil menenteng dua kantong belanja.
Pasar Tani bukan sekadar pasar. Di tempat ini, petani merasa diakui. Pembeli merasa dilibatkan. Negara hadir lebih dekat.
Gubernur Jambi Al Haris membuka langsung Pasar Tani di Lapangan Garuda. Ia berjalan menyusuri lapak. Ia berbincang dengan petani. Ia mendengar keluhan dan harapan mereka.
“Kalau komoditas terus kita tanam dan tidak terputus, inflasi bisa kita kendalikan,” ujar Al Haris di sela kegiatan.
Sebanyak 11 kabupaten dan kota ikut serta. Semua membawa komoditas andalan daerah. Dari sayur, buah, hingga hasil perkebunan. Pemandangan ini menjadi bukti bahwa Jambi tidak kekurangan pangan. Jambi hanya butuh ruang.
Bagi petani, Pasar Tani memberi makna lebih dari sekadar jual beli. Ini tentang kepastian. Tentang rasa bangga melihat hasil ladang dihargai.
“Kami ingin kegiatan seperti ini sering ada. Petani senang, pembeli juga senang,” kata Sulaiman sambil tersenyum.
Di tengah hiruk pikuk peringatan ulang tahun daerah, Pasar Tani menghadirkan cerita yang paling sederhana, namun paling jujur. Cerita tentang tanah yang subur. Tangan yang bekerja. Dan harapan yang akhirnya bertemu di satu lapangan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: